Sahabat Adalah Yang Terindah

Sahabat Adalah Yang Terindah

Jumat, 24 Desember 2010

sayounara....

malam itu aku tengah mengamati ponsel dengan pandangan layu..
setengah tak percaya tapi inilah yang terjadi
satu pelajaran lagi, begitu berharga.
sangat.
saat itu yang aku pikirkan hanya aku dan ponselku.
hahahaha, aku berniat membalas 1 kalimat lagi.
" jika itu yang terbaik. aku ingi menunjukan sesuatu padamu "
dengan perasaan yang tak tentu, ku putar sebuah lagu yang dapat menemani kepedihanku bukan tuk menghiburku.
ya, lagu ini yang aku inginkan.
malam itu aku terlelap lebih cepat dari biasanya.
ingin segera melihat hari esok dg sesuatu yang benar2 mengganjal dalam hatiku saat itu.
sebelum terlelap, aku ingat saat itu aku berdo'a pada tuhan.
-" Tuhan, aku paham. bantulah hamba agar lebih tenang tuhan"-

esoknya, mentari belum begitu tinggi tapi aku telah siap dan tak siap melangkah dengan kakiku sendiri.
sesampainya di sekolah, aku telah melihat dia yang tengah membuat bersih kelas kami.
ingin aku menghampirinya seperti yg telah dijanjikan namun sesuatu membuat aku tuk mengurungkan niat itu.
jam di dinding terus berputar tanpa mempedulikan aku yang tengah menunggu tepatnya waktu.
hingga aku merasa putus asa dan menganggap tak ada waktu lagi.
aku yang masih duduk di bangku, masih menunggu wali kelas selesai dengan acaranya.
huuuuuft....
aku menarik nafas.
masih sembab mataku ini, entah ada yang tahu atau tidak.
jujur ingin aku katakan, "aku tak sanggup".
tapi aku tak tega jika dia akan mengetahui itu.
aku pun mengurungkan niat itu dan berencana untuk mengatakan, " aku mendukungmu" agar dia lebih tenang.

setelah semua wali murid selesai dengan urusannya, beberapa teman masuk ke dalam kelas.
mereka ingin bertemu dengan wali kelas dan mengambil hasil belajar mereka.
waktu menunjukan pukul 09.30, wali kelas kami melangkah keluar meninggalkan kelas dan tugasku saat ini selesai.
kami keluar, ingin aku menyapanya dan menunjukan sesuatu yang telah aku siapkan kemarin malam.
tapi adik kelas memanggilku karna ada sesuatu.
kami melangkah perlahan meninggalkan kelasku.
sambil melangkah, aku bisa melihat punggungnya yang pergi menjauh bersama bayangannya yang pergi dari dari perasaanku. dengan terpaksa.
aku berhenti sejenak, melihat dia yang tengah bersama teman2nya.
aku memutuskan untuk mengikutinya.

hingga aku tepat di sebelahnya.
aku meraih lengan bajunya. dia menoleh dan memberi senyum yang berat padaku.
aku tersenyum lebih berat lagi.
satu per satu teman2 pamit pulang.
hingga tinggal kami berdua.
kami berdua.
padahal masih ada siswa lain yang entah peduli atau tidak dengan keberadaan kami saat itu.
dan sesekali teman yg lewat berdehem tanda curiga.
aku tak peduli.
yang aku hadapi saat ini hanyalah dia.
berkali-kali aku menarik nafas panjang-pendek.
dan aku memberikan sepasang earphone padanya.
aku mulai memutar lagu yg ku maksud dan ku beri selembar kertas bertuliskan terjemahan lagu tersebut.
aku bersandar di meja tepat di belakangnya.
dia mulai membaca dan mendengarkan lagu tersebut.
tanpa kusadari, aku merasa tak dapat lagi membendung air mata ku yang sedari tadi malam tak dapat berhenti menetes.
aku tak ingin dia tahu tentang ini.
dia telah menyelesaikan bacanya.
aku meraih kertas itu dan sepasang earphone.
aku tak sanggup lagi berlama-lama di dekatnya.
aku tak ingin menangis di dekatnya.
aku melangkah pergi, dia memanggil namaku.
ingin aku menghampirinya tp aku tak sanggup lagi.
dia mengikutiku.
tepat di sampingku, ku palingkan wajah.
terasa begitu dekat dia.
aku meneteskan air mata lebih dalam dan disaat dia menawari untuk mengantarkanku pulang, aku hanya bisa mengelengkan kepala.
aku tak percaya dengan apa yang sedang dan yang telah terjadi.
aku hanya bisa meneteskan air mata sia-sia.
andaikan waktu dapat ku putar kembali.
andai semua ini tidak terjadi.
aku hanya melangkah pergi meninggalkannya sambil mengucapkan,,
" sayounara, semoga kita dapat bertemu lagi di suatu senja nanti"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar